Aldi Mulyadi Dilantik Jadi Camat Tempe, Fokus Perkuat Pelayanan Publik Berbasis Digital



WAJO– Bupati Wajo, Andi Rosman, melantik Aldi Mulyadi sebagai Camat Tempe di Ruang Pola Kantor Bupati Wajo, Rabu (4/3/2026) sore.

Pelantikan tersebut merupakan bagian dari pengambilan sumpah jabatan terhadap 364 pejabat yang mengisi jabatan pimpinan tinggi pratama, administrator, pengawas, hingga fungsional di lingkup Pemerintah Kabupaten Wajo.

Prosesi pelantikan berlangsung dengan nuansa adat Bugis. Pejabat laki-laki mengenakan jas tutup, sementara pejabat perempuan memakai baju bodo sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Sulawesi Selatan.

Aldi yang sebelumnya menjabat Sekretaris Kecamatan Keera sejak 2023, tampak berdiri bersama ratusan pejabat lainnya saat prosesi berlangsung. Ia kemudian dipasangkan tanda jabatan camat oleh Bupati.

Usai pelantikan, Aldi menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diberikan kepadanya.

“Alhamdulillah, ini adalah amanah baru bagi saya pribadi. Tentu saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati atas kepercayaannya,” ujar Aldi.

Ia menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di Kecamatan Tempe.

“Mohon doanya semua, semoga tanggung jawab ini bisa kami jalankan sebaik-baiknya, utamanya pelayanan masyarakat di Kecamatan Tempe,” kata dia.

Menurut Aldi, program kerja Bupati dan Wakil Bupati akan menjadi dasar dalam menjalankan tugasnya, termasuk mendorong inovasi di tingkat kecamatan.

“Insya Allah pelayanan publik menjadi fokus utama kami. Inovasi membangun sistem administrasi kecamatan berbasis digital sesuai arahan pimpinan,” ujarnya.

Sementara itu, Andi Rosman mengatakan penggunaan pakaian adat dalam pelantikan memiliki makna kebersamaan dan kesetaraan.

“Kita laksanakan pelantikan dengan pakaian adat Sulawesi Selatan karena kami yakin makna dan artinya besar bagi daerah. Ini momen kebersamaan, tidak ada yang dibeda-bedakan,” kata dia.

Ia juga menekankan pentingnya menjunjung nilai budaya dalam menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara (ASN), termasuk prinsip Yassiwajori.

Selain itu, ia mengingatkan momentum Ramadan menjadi penguat integritas dalam bekerja dan melayani masyarakat.

“Kalau kita niatnya tulus untuk melayani masyarakat, yakin dan percaya semua akan memberi hasil terbaik. Jangan setengah-setengah bekerja demi kepentingan bersama,” ujarnya.

Profil Singkat Aldi Mulyadi

Aldi Mulyadi lahir di Bantaeng, 12 Maret 1974. Ia berdomisili di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 5 Sengkang (1986), kemudian melanjutkan ke SMPN Bissappu Bantaeng (1989) dan SMAN 1 Sengkang (1992).

Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Hasanuddin, Jurusan Arkeologi, dan lulus pada 1999.

Pada kurun waktu 2000–2004, Aldi aktif di sejumlah organisasi, antara lain Lembaga Bantuan Hukum dan Pemberdayaan Perempuan Indonesia (LBHP2i), 
Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, serta Jaringan Pemantau HAM Sulawesi. Ia juga terlibat sebagai relawan pada Canadian Human Right Foundation serta berbagai penelitian arkeologi di Sulawesi Selatan bersama Balai Arkeologi dan Universitas Hasanuddin. (AnthiJoey)

Post a Comment

أحدث أقدم

Advertorial