Revolusi Raja dan Rakyat Maroko, Simbol Perjuangan Melawan Kolonialisme





JAKARTA — Sejarah Revolusi Raja dan Rakyat Maroko bukan sekadar catatan masa lalu. Peristiwa yang diperingati setiap 20 Agustus itu menjadi simbol perjuangan rakyat Maroko dalam mempertahankan martabat, persatuan, dan kedaulatan negaranya.

Revolusi Raja dan Rakyat atau Thawrat al-Malik wa al-Sya’b bermula pada 20 Agustus 1953, ketika Sultan Mohammed V bersama keluarganya diasingkan oleh pemerintahan kolonial Prancis karena menolak tunduk pada tekanan penjajah.

Sultan Mohammed V sempat diasingkan ke Korsika sebelum kemudian dipindahkan ke Madagaskar. Pengasingan tersebut justru memicu gelombang perlawanan rakyat Maroko.

Aksi mogok, demonstrasi, hingga berbagai gerakan perjuangan bermunculan di sejumlah wilayah. Rakyat menuntut agar Sultan Mohammed V dikembalikan ke tanah air.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 16 November 1955, Sultan Mohammed V kembali ke Maroko dan disambut sebagai simbol kemenangan perjuangan rakyat.

Beberapa bulan kemudian, pada Maret 1956, Maroko memperoleh kemerdekaan dari Prancis.

Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, Dr. Teguh Santosa, mengatakan Revolusi Raja dan Rakyat memiliki makna sejarah yang sangat kuat karena menunjukkan eratnya hubungan antara pemimpin dan rakyat dalam menghadapi kolonialisme.

“Revolusi Raja dan Rakyat bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi memori kolektif tentang perjuangan, persatuan dan kedaulatan bangsa Maroko,” ujar Teguh.

Menurut Teguh, sejarah tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan Indonesia. Semangat antikolonial yang diperjuangkan Indonesia melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika menuju kemerdekaan.

“Sejarah harus terus dikenang dan diwariskan. Kemerdekaan bukan akhir perjuangan, melainkan awal untuk membangun bangsa dan menghadirkan kemakmuran bagi rakyat,” katanya.

Kini, setiap 20 Agustus, rakyat Maroko memperingati Revolusi Raja dan Rakyat sebagai pengingat bahwa persatuan dan keberanian rakyat mampu mengubah perjalanan sejarah.

Bagi Indonesia dan Maroko, sejarah tersebut sekaligus menjadi salah satu fondasi persahabatan kedua bangsa yang sama-sama memiliki pengalaman perjuangan melawan kolonialisme. (***)

Post a Comment

أحدث أقدم